Monday, June 20, 2011

Festival Tari Topeng Andong – part 3

Sesuai janji author di akhir part 2, di part 3 ini akan dibahas 3 dari 12 jenis tari topeng yang diadakan selama Festival Tari Topeng Andong.

Kwanno Mask Dance

Tari topeng ini termasuk dalam kekayaan budaya nomor 13 dan biasa dilakukan saat Tanoje atau festival Tano yang diadakan di daerah Kangrung pada hari kelima bulan kelima menurut kalender bulan. Kata Kwanno sendiri berarti semacam budak yang bekerja untuk pemerintah.
Kapan tepatnya tari ini dimainkan belum jelas, tapi menurut Owang Sun-shik, penduduk daerah Kangrung, tari ini telah dimainkan sejak zaman pemerintahan Raja Owang Gon, pendiri Dinasti Koryo. Sedangkan menurut Nam Hyo-on, tari ini telah ada sejak Dinasti Choson di daerah Yongdong.
Pertunjukan tari ini sempat diberhentikan pada tahun 1901, tapi kemudian diperkenalkan kembali sebagai salah satu warisan budaya pada tanggal 16 Januari 1967. Mulai dari tahun 1985 hingga sekarang, tari ini ditampilkan oleh warga Yuch’ondong, Kangrung.

Kosung Okwangdae

Awalnya, tarian ini dimainkan di daerah Kosung sejak festival bulan purnama pertama pada dinasti Choson. Kata Okwangdae sendiri berarti 5 seniman. Okwangdae juga terdiri dari 5 bagian cerita yang disebut Kowjang. Gerakan tarian ini sangat lembut dan anggun serta diiringi dengan lagu-lagu bertempo lambat.
Kowjang pertama berkisah tentang seorang penderita kusta yang dulunya adalah keturunan Yangban (bangsawan pada dinasti Choson). Karena menderita kusta, ia pun dikucilkan. Kebencian dan ketidaksenangannya tergambar dalam tarian ini.
Kowjang kedua bercerita tentang kebejatan para Yangban dan rasa benci Malttugi (pelayan Yangban) kepada mereka. Di kowjang ketiga menampilkan adegan tari yang bermakna ejekan kepada biksu yang melanggar perintah Buddha. Pada kowjang keempat, muncul makhluk khayalan yang memiliki badan manusia berkepala binatang yang disebut Bibi. Adegan dimana Bibi ini memakan semua makhluk di muka bumi menggambarkan kelakuan para Yangban yang suka menindas rakyat.
Di kowjang kelima, digambarkan Yonggam (penguasa/orangtua) yang memiliki Chop (selir). Ketika selir tersebut melahirkan, bayi tersebut diambil oleh istri sah si Yonggam. Karena iri dan ingin mengambil kembali bayinya, selir itupun berkelahi dengan sang istri. Tapi, dalam pertarungan mereka, bayi tersebut meninggal. Melihat bayinya meninggal, selir tersebut kalap dan membunuh si istri. Adegan ini mengajarkan kita untuk meninggalkan kebiasaan memiliki selir.

Tongyoung Okangdae

Tarian satu ini diwariskan dari generasi ke generasi di wilayah Tongyoung. Ceritanya lucu dan menampilkan unsur kedaerahan.

Nah..itu dia ketiga tarian yang biasa ditampilkan selama festival tari topeng Andong digelar. Di part berikutnya, akan ada bahasan tiga jenis tarian lagi yang umumnya ada di festival ini.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment